Bagaimana Cara Melakukan Urban Farming

Urban farming atau berkebun di tengah perkotaan kini menjadi tren gaya hidup di kota-kota besar di dunia. Urban farming tak cuma berkhasiat dari segi ekonomi, namun juga kesehatan. Bagaimana caranya? Simak penjelasannya berikut ini.

Urban farming merupakan istilah yang merujuk pada kesibukan bercocok tanam atau beternak secara mandiri, di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas, yang kemudian hasilnya diolah untuk dikonsumsi sendiri atau didistribusikan ke tempat lain. Salah satu kegiatannya merupakan menanam sayuran dan buah-buahan. Aktivitas urban farming umumnya memanfaatkan lahan terbatas di perkotaan, seperti di pekarangan rumah atau perkantoran.

Kita dapat membikin taman mikro dengan memanfaatkan ruang kecil yang ada untuk menanam pohon. Ruang hal yang demikian dapat di balkon, teras, atau atap rumah. Berikut merupakan sebagian hal yang perlu dilihat dalam merealisasikan Urban farming.

Wadah tanaman
Kita dapat menanam pohon di tanah lantas atau menerapkan wadah berupa pot, botol, ember bekas, ban mobil bekas, atau media penampung lainnya.

Media penanaman
Pakai tanah kebun sebagai media penanaman. Kita juga dapat mengganti tanah kebun dengan benda-benda substrat, seperti kulit kacang, sabut kelapa, sekam padi, atau tanah Bila substrat juga tak tersedia, kita dapat menerapkan air seo yang dicampurkan dengan larutan pupuk.

Pengairan
Untuk pengairan atau irigasi, kita dapat memanfaatkan air hujan atau air sisa yang masih cocok. Air yang diperlukan untuk menyiram tanaman, relatif sedikit. Untuk taman seluas satu meter persegi, cuma memerlukan kurang dari 3 liter air per hari.

Tanaman
Di taman mikro untuk urban farming, kita dapat menanam pelbagai sayuran siap saji, seperti kol, selada, mentimun, tomat, dan bawang. Sebagai ragam, coba tanam pula tanaman herba, seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan

Walaupun mini, taman urban farming ini terbilang relatif produktif. Studi yang dikerjakan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) menonjolkan bahwa satu meter persegi taman mikro dapat menghasilkan sekitar 100 bawang tiap empat bulan, 10 kol tiap tiga bulan, sekitar 200 tomat atau 30 kg per tahun, atau 36 bonggol selada per dua bulan.

Walaupun semacam jasa page one, perlu diingat bahwa pemilihan tanah maupun air untuk irigasi menjadi dua unsur yang penting. Hindari menerapkan tanah atau air yang terkontaminasi unsur-unsur berbahaya. Selain itu, hindari juga menerapkan pestisida yang dapat meracuni tanah dan hasil tanam.

Jangan lupa untuk senantiasa mengenakan sarung tangan, dan cuci tangan dengan benar setelah berkebun dan sebelum makan. Berhati-hatilah untuk tak membawa serta kotoran dari kebun ke dalam rumah. Cuci hasil urban farming sebelum disimpan atau dimakan, dan ajarkan anak-anak untuk menjalankannya juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *