Guides Terkini Tentang Menikmati Keteduhan Ubud, Bali


Seni, tenang, hijau, romantis. Ubud. Empat kata yang merefleksikan sebuah desa di perbukitan di tengah pulau Bali. Selalu bahagia berada disana. Ketenangannya membuka aliran darah untuk berkreasi lebih dan lebih lagi.


Kali ini kami menginap di Kori Ubud Hotel and Resort. Tempat yang tenang dan menyenangkan. Hanya terdiri dari beberapa kamar yang berukuran cukup besar, dilengkapi dengan kamar mandi yang besar juga lengkap dengan bathup dan shower. Kebetulan kami dapat kamar diatas, hingga saat membuka balkon langsung tampak kolam renang yang sejuk diantara pepohonan.



Setelah breakfast dan olahraga pagi, hari ini kami berjalan-jalan di sekitar resort dan ternyata lokasi penginapan kami dekat dengan museum Antonio Blanco. Ya, pelukis Belgia yang jatuh cinta dan menetap di Ubud itu ternyata tinggal dekat sini. 




Memasuki lahan museum Blanco yang dulunya merupakan rumah tempat tinggal beliau ini, kami disambut oleh burung-burung nuri dan kakaktua yang besar.. Wow, ternyata mereka dipelihara dan sangat ramah dengan pengunjung..



Puas bermain dengan burung-burung ramah ini, kami pun masuk ke ruang pamer museum. Disini ditampilkan beragam hasil karya maestro Antonio Blanco. Sejak pertama ia jatuh cinta dengan Bali hingga akhirnya menikahi Ni Rondji dan diangkat sebagai warga kehormatan oleh Raja Sukawati di masa itu.


Sang maestro melukis banyak sekali gambar perempuan. Baik itu dengan gaya tradisional maupun kebarat-baratan. Dan semua perempuan yang dilukis sang maestro digambarkan bertelanjang dada. Mungkin karena di tahun beliau masih hidup (1910-an) budaya di daerah ini masih seperti itu.


Ada yang unik di museum ini. Mungkin memang Antonio Blanco punya sedikit "kenakalan" dalam dirinya terutama yang berhubungan dengan sensualitas dan seksual. Ada satu ruangan bernama "erotica" di museum ini, dan hanya boleh dimasuki oleh pengunjung berusia 17 tahun keatas. Kenapa? Ternyata memang semua lukisan dan benda seni yang ada di ruang ini menggambarkan sensualitas dan seksual. Walau menurut saya ini tidak bisa dimasukkan dalam koridor pornografi karena semuanya sangat artistik dan merupakan sebuah karya seni.



Selesai kami menikmati hasil karya beliau di museum, kami dijamu dengan refreshment berupa teh sereh pandan di restoran Ni Rondji. Saat ini museum dan restoran yang menjadi satu di kompleks museum Antonio Blanco ini diurus oleh salah satu anak beliau, yang juga pelukis, Mario Blanco.



Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Hmm.. Kalau di Ubud, ada makanan wajib yang harus didatangi. Yess.. Bebek Bengil atau dikenal dengan "dirty duck diner" Ini baru makan mantap...





Setelah foto sejenak di pematang sawah yang memang jadi spot foto wajib di restoran ini, Kami pun jalan-jalan lagi.. Tujuan kali ini mau lihat kerajinan perak di Celuk dan setelah itu belanja ke pasar seni yang ada di sekitar sini..



Setelah berhasil mendapatkan sebuah cincin perak yang cantik ini dengan proses tawar menawar yang cukup seru, kami pun mulai merambah pasar. Tujuan pertama, pasar Sukawati. Well... karena hebohnya berbelanja, acara tawar menawar dan borong memborong ini tidak sempat ditangkap kamera. Sudahlah ya.... Yuk kita belanja aja...

Selesai di pasar Sukawati, kita kembali ke Ubud. Rencananya sih mau istirahat sore. Tapi di perjalanan melewati lagi pasar Ubud..Soo..mampir lagi... Hihihiii... koleksi gelang kalung pun bertambah lagi....


Akhirnya tak terasa memang matahari sudah tidak terlihat. Karena posisi di perbukitan seperti ini, tidak ada niat juga untuk mengejar sunset. Yang dikejar ya belanja yang lucu-lucu itu. Dan akhirnya end up di salah satu distro fashion branded yang kasih harga miring...well...




Ternyata, jalan jalan buat belanja itu tidak kalah melelahkan dibanding snorkeling atau mendaki gunung ya.. Lapar lagi tak terasa sudah jam 7 malam. Cari-cari makanan di sekitar. Ada Three Monkeys, namun kayaknya ga terlalu ingin makan berat. Pindah lagi sambil matanya tetap hunting distro, hahahaaa...



Dan akhirnya pilihan pun jatuh pada Warung Murni. Restoran satu ini memang menyediakan makanan berat, tapi konsepnya lebih ke cafe, jadi bisa pesan yang ringan-ringan. Seperti mushroom soup, salad, sandwich atau cake.


Aku pesen yang dari tadi belum kesampaian. Kopi Hitam.. ditemani sepotong chocolate brownie, cukup jadi penutup hari ini... Have a great shopping time today... See you next trip guys...Good night.






0 Response to "Guides Terkini Tentang Menikmati Keteduhan Ubud, Bali"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel