Guides Terkini Tentang Magelang, an Oasis in the Central of Java




Another adventure with lovely mommas.....Super Fun, Super Cheap, Super Excitement

Kali ini tiga orang travelling mommas bepergian dengan kereta api. Dalam rangka mencoba fasilitas umum yang telah diperbaiki di era menteri perhubungan yang baru, kami memilih naik kereta ekonomi ac dengan tujuan Yogyakarta, Berhasil mendapatkan tiket kereta online dengan hanya Rp. 200.000 untuk tiket pulang pergi, kami pun segera menyiapkan ransel dan perbekalan pakaian selama 4 hari 3 malam.

Berangkat siang hari dari stasiun Pasar Senen Jakarta, kereta mendarat di stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 19.30 malam. Setelah mampir untuk makan malam di Angkringan Wedang Kampoeng yang cukup terkenal di daerah Kaliurang, kami melanjutkan perjalanan ke Magelang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit dengan mobil.



Apa yang kami ketahui tentang Magelang? None... Kehadiran kami disini karena memenuhi undangan teman yang sangat gencar mempromosikan wisata alternative selain ke Yogyakarta. Well, memang saat memasuki kota ini, udaranya jauh lebih sejuk dibanding kota sebelumnya, jalan raya pun tampak bersih dan rapi. Anyway..karena kami sampai di rumah teman sudah sekitar jam 22.30, maka kami pun langsung beristirahat dan tidurrrr.

Pagi hari, telah tersedia teh manis berikut pisang goreng dan di meja makan juga telah disiapkan nasi gudeg komplit khas Magelang. Berbeda dengan gudeg Yogya, rasa manis tidak terlalu melekat dan untuk oseng kreceknya lebih berkuah, wah...sepagi ini sudah sarapan berat....

Sebelum berangkat, sempat berfoto sejenak di depan rumah temanku ini.. pemandangan indah di pagi hari... Dan kami pun bersiap untuk berangkat explore Magelang...



First destination, Bukit Tidar. Selain dikenal sebagai kawasan wisata, lokasi ini juga merupakan tempat latihan para taruna Akademi Militer. 



Memasuki kawasan bukit Tidar ini, kami disambut dengan atraksi monyet-monyet yang asyik berlompatan dari dahan satu ke dahan lainnya. Monyet disini tidak mengganggu pengunjung, bahkan cenderung ramah. Mungkin karena warga sekitar terbiasa memberi makan mereka, sehingga monyet tidak merasa terganggu dengan kehadiran manusia.


Menaiki ratusan anak tangga ini lumayan membuat peluh bercucuran namun tetap nyaman untuk didaki, karena tangga sudah dibuat bagus dan tidak terlalu terjal, ditambah tersedianya bangku untuk tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke puncak. 

Selama perjalanan mendaki, kami menemukan makam Syeh Subakir, beliauadalah penyebar agama Islam yang berasal dari Turki dan melakukan dakwahnya di sekitar perbukitan ini sebelum era Wali Songo, dan uniknya karena selalu membawa tongkat, yang dikenal dengan nama Kiai Sepanjang, maka tidak jauh dari makam beliau juga tampak ada makam untuk tongkat sepanjang 2 meter ini.

Rupanya kawasan Bukit Tidar ini selain sebagai kawasan wisata dan sarana olahraga masyarakat sekitar, seringkali dijadikan tempat untuk ziarah oleh rombongan. Mungkin karena ada 4 makam di kawasan ini. Dua makam yang kami temui berada di puncak bukit, yaitu makam Pangeran Purboyo dan makam Eyang Ismoyo atau lebih dikenal dengan Kiai Semar. 

Selain makam tersebut, di puncak bukit terdapat tugu sebagai tanda bahwa kawasan ini masih menjadi kawasan milik Akmil, dan ada satu monumen peringatan yang disebut sebagai pakunya tanah Jawa, yang menyatakan bahwa lokasi tersebut adalah titik tengah dari pulau Jawa.


Sooo happy dengan banyaknya spot pepohonan yang bisa ku capture dengan kamera. Dan tentunya mommas yang dua orang lagi pun lebih happy jadi model jepretanku kali ini. Masuk ke dalam hutan penuh pepohonan, mata dimanjakan dengan warna hijau yang teduh, paru-paru pun diisi penuh dengan oksigen murni. Udara sejuk dan menyegarkan, bagaikan menemukan oase diantara keriuhan dan kepenatan kota yang sehari-hari kami jalani.


Puas berfoto diatas bukit, perjalanan dilanjutkan lagi..sekarang saatnya turun. Kedengarannya mudah ya, namun untuk menuruni 418 anak tangga walaupun posisinya kebawah, bukan berarti kami cepat sampai, hmmm...tetap saja menjadikan kaos kami basah dengan keringat saat sampai di pintu keluar.

Sebelum perjalanan dilanjutkan, kami sarapan kedua di resto yang menyediakan sop khas daerah Bukit Tidar, namanya Sop Senerek. Sebenarnya ini semacam sop daging bening, namun isinya terdiri dari bayam, kacang merah dan wortel. Rasanya segar sekali, cukup untuk mengisi perut hingga tujuan kami berikutnya.

Next stop, masih seputaran gunung juga. Magelang ini satu-satunya kota di Jawa Tengah yang dikelilingi 5 gunung sekaligus, jadi kalau tadi bermain di Bukit Tidar, selanjutnya kami menuju ke Ketep Pass, yang merupakan obyek wisata di puncak bukit Sawangan, yang posisinya terletak di pertengahan antara gunung Merapi dan gunung Merbabu.


Udara semakin sejuk menerpa wajah kami, terlebih kabut pun tampak mulai turun.Wah, sepertinya kurang pagi sampai  disini, karena kabut tebal sudah menutupi sebagian gunung Merapi. Namun karena lokasinya yang luar biasa indah, walau tidak berhasil melihat gunung secara utuh, kami masih dapat menikmati keindahan pemandangan khas pegunungan sambil menikmati secangkir kopi dan teh hangat.

Ketep Pass sendiri memiliki luas area wisata sekitar 8000 meter persegi. Disini ada Volcano Theater yang memutarkan film tentang kejadian letusan merapi. Juga disediakan 2 gardu pandang untuk melihat keindahan gunung Merapi dan gunung Merbabu melalui teropong atau secara langsung. Ada juga tempat untuk anak-anak bermain Flying Fox dan bersepeda, namun karena kami tidak kesini saat weekend, maka beberapa fasilitas tersebut tidak dibuka.



Ikutin bahasa ngehitznya salah satu artis ibukota ah... I Feel Free.....!! Rasanya memang sebebas itu sih ada di ketinggian 1200 mdpl dan berada sangat dekat dengan langit..wow..it feels great to be with nature. Sambil mengistirahatkan kaki yang sudah mengeluh karena naik tangga dan tangga... kami menikmati makan siang dengan semangkuk mie instant... 

Day 2... Perjalanan hari kedua ini dimulai dengan city tour, jalan-jalan seputar kota Magelang. Termasuk melihat museum dan minum dawet di alun-alun kota. 



Setelah sempat sholat Zuhur di Masjid Agung Kauman Magelang, perjalanan pun kami lanjutkan ke pantai selatan, tujuannya Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Karena lokasi yang sudah diluar kota Magelang, sepertinya kisah pantai legendaris dari propinsi DI Yogyakarta ini akan diceritakan di post berikutnya.




I really enjoy this trip.. Ga percuma nekat berangkat ke daerah yang belum pernah kukenal, ternyata kota ini mempunyai keindahan tersendiri. Unik, ramah dan mandiri, tempat yang cocok untuk menyepi sejenak, untuk rileks, menjadi oasis yang menyejukan. 

See you next trip guys... Keep explore Indonesia, it's beautiful....

0 Response to "Guides Terkini Tentang Magelang, an Oasis in the Central of Java"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel